Fakta Menarik Terkait Riset Manajemen Sampah oleh Waste4change

 

 

Sampah merupakan bagian penting dari kehidupan manusia, karena itu pengelolaan dan manajemen sampah perlu dipertimbangkan dengan baik. Terdapat lembaga di Indonesia yang peduli dengan pengelolaan sampah, yakni waste4change yang telah melakukan riset manajemen sampah yang baik. Berikut adalah fakta mengenai program dan manajerial sampah yang mereka lakukan.

Riset Manajemen Sampah yang Dilakukan Waste4change

 

1. Berawal dari Darurat Sampah di Indonesia

Awal mula riset mengenai manajerial sampah dimulai dari Indonesia yang mengalami darurat sampah. Hal ini terlihat dengan adanya kasus longsor pada tempat sampah akhir atau TPA di Jawa Barat, tepatnya di Leuwigajah.

Longsor tersebu tidak hanya membuat sampah menjadi berserak dimana-mana, namun juga menghancurkan rumah dan perkebunan yang dimiliki warga. Ini tentu menjadi tanda yang nyata bahwa pengelolaan sampah di Indonesia belum berlangsung dengan baik. Dua desa dikatakan tertimbun dan banyak korban jiwa yang tercatat.

Oleh sebab itulah, ketika Hari Peduli Sampah Nasional atau HPSN, dilakukan kerja bakti massal meski di wilayah yang berbeda, yakni Makassar. Namun dengan cara ini diharapkan masyarakat sadar dengan sampah yang ada di sekitar mereka dan diharapkan dapat mengelolanya dengan baik.

2. Lembaga Pengelolaan Sampah

Di Indonesia terdapat lembaga yang mengelola sampah sehingga TPA dan TPS yang ada di sekitarnya tidak menumpuk. Lembaga tersebut adalah waste4change, yang memiliki titik dan ruang kerja di wilayah Jawa Barat, tepatnya di Bekasi.

Di tempat tersebut, sampah yang sudah dikumpulkan dari berbagai tempat dikelola agar bisa dimanfaatkan kembali untuk proses produksi. Dengan cara ini wilayah antara Bekasi, Cibubur dan yang lainnya bisa bersih dari sampah dan menjadi lingkungan yang nyaman dan ramah huni.

Lembaga tersebut sudah mempersiapkan beberapa tahapan untuk mengelola sampah, mulai dari pengumpulan, filter atau pemisahan sampah sesuai jenisnya, dan proses daur ulang atau pengelolaan sampah sehingga sampah bisa digunakan kembali.

3. Proses Pengelolaan Sampah: Pengumpulan Sampah

Proses pengumpulan sampah untuk riset manajemen sampah tidaklah semudah kelihatannya. Awalnya, lembaga ini harus melakukan edukasi kepada masyarakat agar mereka sadar bahwa sampah memiliki cara lain untuk dimanfaatkan dan dikelola, bukan hanya sekedar ditimbun di TPA atau TPS.

Langkah awal yang mereka lakukan adalah mengajak masyarakat untuk melakukan sortir sampah sesuai dengan jenisnya, dengan menyediakan tempat sampah khusus. Kerja sama kepada lembaga yang berwenang mengenai sampah juga diperlukan untuk membuat proses pengumpulan sampah menjadi lancar.

Tempat sampah yang digunakan untuk melakukan sortir sampah memiliki tiga jenis yang dibedakan berdasarkan warnanya. Untuk sampah organik, digunakan tempat sampah berwarna hijau, warna biru untuk kertas, sedangkan sampah plastik, logam dan kaca akan masuk ke tempat sampah oranye.

4. Proses Pengelolaan Sampah: Sortir Sampah

Walaupun sudah dipilah berdasarkan jenisnya, nantinya sampah-sampah ini tetap akan disortir ulang. Akhir dari penyortiran ini akan membuat sampah memiliki 25 jenis, kemudian berlanjut penyortiran kembali menjadi 35 jenis sampah.

Meskipun butuh waktu yang panjang, namun ia merupakan langkah yang tepat untuk mengelola sampah agar tidak merusak lingkungan. Setelah pemilihan sampah yang panjang tersebut, nantinya hanya ada satu jenis sampah anorganik yang bisa didaur ulang, yakni jenis PET untuk dicacah oleh mesin penghancur.

Edukasi yang sebelumnya dilakukan tentunya membuah hasil agar sampah-sampah ini bisa dikelola dengan baik. Apabila masyarakat sudah mampu mengolah sampah sendiri, tentunya permasalahan sampah yang ada di Indonesia sedikit-sedikit bisa dikurangi.

5. Proses Pengelolaan Sampah: Pengemasan dan Pencacahan Sampah

Proses dari riset manajemen sampah tidak hanya sampai di proses pencacahan saja, ada proses lain yang masih perlu dilakukan, yakni pengemasan dan pencacahan sampah sebelum disalurkan ke tempat-tempat yang membutuhkan. Setelah dicacah, sampah PET nantinya akan menjadi bijih plastik yang memiliki nilai jual.

Pelet plastik juga bisa menjadi hasil dari sampah yang telah digiling, ini akan membuat produksi produk plastik skala rendah hingga menengah dari bola plastik, tas belanja serta tas kresek bisa dilakukan. Ini tentu menjadi langkah yang tepat untuk mengelola sampah dan membuatnya menjadi barang dengan nilai yang lebih baik.

Pengemasan pelet atau biji plastik umumnya menggunakan karung dan dijual dengan satuan kilogram. Harganya cenderung bervariasi tergantung dengan permintaan pasar. Kira-kira untuk satu kilogram, harganya bervariasi antara 5-10 ribu rupiah untuk satu kilonya.

6. Pentingnya Mengelola Sampah dengan Baik

Jika sampah yang ada di lingkungan menumpuk, tentunya pemandangan yang ada di sekitar masyarakat tampak kurang menarik. Inilah kenapa penting untuk mengelola sampah sejak dini agar permasalahan sampah di Indonesia secara perlahan bisa diatasi.

Berikut ini adalah alasan kenapa lembaga pengelolaan sampah penting untuk dikembangkan di Indonesia, diantaranya:

  • Bisa menjadi media wirausaha yang tepat untuk mereka yang ingin mengelola sampah yang ada di lingkungannya, sekaligus menghasilkan profit dari bidang tersebut.
  • Turut membantu lingkungan dalam proses pengelolaan sampah, sehingga membantu mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke TPA atau TPS di suatu wilayah.
  • Sampah anorganik bisa Anda manfaatkan dengan dijual kembali, baik dalam bentuk pelet plastik atau kerajinan tangan. Sedangkan sampah organic bisa dikelola kembali menjadi kompos yang juga memiliki nilai jual.

Demikianlah berbagai informasi mengenai riset manajemen sampah yang dilakukan oleh lembaga pengelolaan sampah. Anda bisa turut serta membantu program yang mereka kembangkan dengan mengirimkan donasi dana. Dengan begitu, proses pengelolaan sampah yang dilakukan bisa lebih maksimal dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.